Total Tayangan Laman

Minggu, 22 Januari 2012

TENTANG GUNUNG BAWAKARAENG

Gunung Bawakaraeng Selayang pandang

Oleh:Mustafshier Indigo
“jika anda berpikir bahwa gunung hanyalah sekedar
tumpukan bebatuan, tanah dan pepohonan yang tinggi;
maka anda menempatkan diri anda tak lebih dari
tumpukan tulang belulang, daging dan darah saja”
(I’Andi Ributtatoayya).
I. Pendahuluan
Gunung Bawakaraeng merupakan suatu tempat yang memiliki ketinggian 2883 m dpl (diatas permukaan laut) dengan letak geografis pada 119° 56 ‘40″ BT ; 05°19′ 01″ LS ; dan berada dalam wilayah administrasi kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Saat ini, nama Gunung Bawakaraeng lebih dikenal dalam aktivitas kepencintaalaman / kepetualangan, geologi, dan tradisi budaya / ritual mistis (intensitasnya telah berkurang).
Pembicaraan mengenai Gunung Bawakaraeng memuncak saat terjadinya bencana alam / peristiwa longsor (lebih tepat disebut patah dan jatuh) di badan gunung tersebut dengan material buangan ±300 juta meter kubik pada 26 maret 2004.
Peristiwa alam tersebut menjadi perhatian dunia internasional karena merupakan peristiwa longsor terbesar (dilihat dari jumlah buangan material) yang pernah ada di muka bumi.
II. Pengertian
1. Nama Bawakaraeng
Bawakaraeng adalah suatu nama / istilah dari bahasa Makassar , yakni ; Bawa memiliki arti : ucapan (mulut) dan Karaeng menunjukkan arti : suatu predikat yang dihormati / yang dihargai (raja); atau secara harfiah berarti mulut raja; sehingga istilah Bawakaraeng secara maknawiah menjelaskan bahwa kehormatan seseorang atau nilai diri (harga diri) seseorang terletak pada ucapannya (mulutnya).
Hingga saat ini belum ditemukan suatu catatan yang menjelaskan (sejak kapan dan latar belakang) mengenai penempatan nama Bawakaraeng pada sebuah Gunung (yang ada saat ini), meskipun dapat dimengerti bahwa kebiasaan pemberian nama pada suatu tempat, umumnya berdasarkan riwayat kejadiannya.
Selain Bawakaraeng, terdapat sebutan / predikat lain bagi tempat (Gunung) tersebut, yakni :
Buttatoayya (dari bahasa Makassar); Butta berarti Tanah; Toa berarti Tua; dan Ayya menunjukkan (kata) sifat; sehingga secara harfiah Buttatoayya berarti Tanah yang memiliki sifat yang Tua; atau secara maknawiah Buttatoayya menegaskan sebagai suatu tempat (yang tinggi) yang dituakan (bukan tua secara geologis) karena telah dipilih / disepakati oleh para wali / para karaeng / kaum suci (Islam) sebagai tempat untuk berdoa (bersembahyang) dan bertemu untuk membicarakan kebaikan.
Predikat sebagai Buttatoayya lalu didudukkan pada sebuah Gunung yang diberi nama Bawakaraeng. Predikat Buttatoayya lebih dipahami oleh pelaku tradisi budaya / ritual mistis atau mereka yang sangat mendalami kedudukan Bawakaraeng.
2. Geologis Gunung Bawakaraeng (sekilas)
Gunung merupakan suatu wilayah / tempat (morfologi) di permukaan bumi yang berbentuk tonjolan dan memiliki titik ketinggian lebih dominan dibanding titik ketinggian yang ada disekitarnya (bukit).
Gunung Bawakaraeng tidak terlalu tepat untuk disebut sebagai gunung oleh karena gunung Bawakaraeng terletak atau bagian dari jajaran pegunungan Lompobattang serta salah satu puncak dan puncak tertinggi dari jajaran pegunungan Lompobattang. Beberapa puncak di jajaran pegunungan Lompobattang, antara lain : puncak Van Bonthain (umumnya disebut puncak Lompobattang), puncak Bulu Assuempolong, puncak Bulu Kaca, puncak Ko’bang, puncak Bulu Baria, puncak Bulu Porong, Puncak Bawakaraeng dan puncak Sarobaiyya.
Secara geologis bermula dari terbentuknya formasi gunung api Lompobattang yang pecah (meletus) dan membentuk sejumlah kawah (saat ini lebih dikenal dengan Lembah Ramma, Lembahlowe dan Lembah Anjayya) lalu terjadinya proses pengangkatan (gunung Bawakaraeng) dan membentuk kesatuan jajaran pegunungan Lompobattang.
3. Gunung Bawakaraeng
Bersandar pada penjelasan diatas, maka dapat dipahami bahwa Gunung Bawakaraeng merupakan suatu wilayah ketinggian yang memiliki kedudukan sebagai tempat untuk berkomunikasi, berdoa (memohon, meminta) kepada Sang Maha Pencipta dan tempat untuk mendidik manusia dalam proses mencari kebaikan dalam kehidupan di dunia.
Gunung Bawakaraeng merupakan sebuah gunung yang disucikan dan berfungsi sebagai tempat untuk bersembahyang.
III. Tradisi Budaya (ritual mistis) Di Gunung Bawakaraeng
Sejauh ini belum dan sulit ditemukan catatan atau informasi yang tepat tentang awal mula berlangsungnya tradisi mistisisme di Gunung Bawakaraeng.
Tetapi dapat dipastikan bahwa tradisi ini sudah berlangsung berabad – abad lamanya (bandingkan dengan pendakian / penelitian biologi di wilayah puncak Lompobattang oleh James Brook, pada tahun 1847). Tradisi mistis tersebut dilakukan oleh lebih dari satu kelompok aliran dengan kecenderungan menutup diri, sehingga pengumpulan data akan mengalami kesulitan dan dapat menimbulkan kesimpangsiuran informasi (misalnya tradisi haji Gunung Bawakaraeng).
1. Tentang Tradisi (Haji ?) Bawakaraeng
Istilah Haji Bawakaraeng mencuat saat terjadinya peristiwa meninggalnya sejumlah orang (13 orang masyarakat umum; bukan dari komunitas pencinta alam / pendaki gunung)
yang tengah melakukan perjalanan / pendakian / aktivitas di Gunung Bawakaraeng pada bulan Haji / Zulhijah (awal agustus 1987).
Peristiwa tersebut kemudian di “plintir”, menjadi peristiwa haji Bawakaraeng, dan bermuara dikeluarkannya larangan oleh pemerintah daerah kabupaten Gowa untuk melakukan perjalanan / pendakian ke Gunung Bawakaraeng pada bulan Zulhijjah.
Terdapat suatu kelompok / komunitas tertentu dari masyarakat di Indonesia, terutama di Sulawesi Selatan memiliki tradisi untuk selalu / secara berkala / pada saat tertentu, termasuk pada bulan Zulhijah (bulan haji) melakukan perjalanan (karena ada suatu aktivitas / tujuan yang jelas) ke Gunung Bawakaraeng. Dominan (jumlah terbesar) dari komunitas tersebut justru tidak bertempat tinggal / berdomisili dekat / di kaki Gunung Bawakaraeng.
Kelompok masyarakat yang melakukan perjalanan ke Gunung Bawakaraeng pada bulan Zulhijah dapat di pilah – pilah berdasarkan sebab / tujuan, yakni :
a. Kelompok keluarga yang menjalankan tradisi (mempertahankan tradisi) turun temurun; Shalat bersama keluarga dan berdoa memohon sesuatu (kebaikan) kepada Allah SWT, lalu bersama – sama menikmati bekal makanan yang telah dipersiapkan. Tidak ada ritual sesajenan.
b. Kelompok yang merupakan gabungan dari beberapa kelompok kecil / individu – individu dengan seorang pemimpin; Shalat Idul Adha bersama, mendengar khotbah / petuah kebaikan, berdoa memohon sesuatu (kebaikan) kepada Allah SWT, lalu bersama – sama menikmati bekal makanan yang telah dipersiapkan. Tidak ada ritual sesajenan.
c. Kelompok / individu yang ingin memenuhi janjinya karena suatu sebab. Shalat idul adha bersama-sama dan berdoa menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT karena keinginannya telah terkabul; atau perjalanan mereka baru pada tahap berdoa / memohon sesuatu (kebaikan, rezki agar bisa menunaikan ibadah haji di Tanah Mekkah, dikaruniai anak, kesembuhan dari sakit yang diderita, dll) kepada Allah SWT; lalu bersama – sama menikmati bekal makanan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tidak ada acara ritual sesajenan.
d. Kelompok yang sama dengan diatas (a, b,c) tetapi diakhiri dengan ritual melepas hewan hidup (umumnya ayam dan kambing).
e. Kelompok yang sama dengan diatas (a, b, c) tetapi diakhiri dengan ritual menyimpan: – makanan (nasi ketan biasa / songkolo; nasi ketan manis / waji’ / baje’), – Pangajai (daun siri, kapur siri, siri, gambir yang telah di racik).
f. Kelompok yang melakukan semua ritual yang ada diatas.
Individu – individu yang keinginan untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Mekkah (Arab Saudi) telah terkabul; kelak akan kembali ke Gunung Bawakaraeng hanya untuk menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT (tidak persis sama dengan pernyataan yang mengatakan bahwa : mereka menyempurnakan hajinya di bawakaraeng; pernyataan ini memiliki kecenderungan menyesatkan pemahaman).
Pointnya ialah bahwa di Tanah Gunung Bawakaraeng mereka berdoa (meminta dan menyampaikan rasa syukur) kepada Allah SWT.
Memang benar bahwa beberapa tempat di Tanah Gunung Bawakaraeng terdapat / diberi nama seperti : Madinah, Makkayya (Mekkah), Titian Anjayya (jembatan sirathal mustaqim), dll. Tetapi apapun namanya, semua itu hanyalah penggambaran yang ditujukan (proses belajar) untuk menambah dan mempertinggi tingkat penghayatan / keyakinan kepada Allah SWT; sehingga tidak benar terdapat suatu aktivitas / prosesi haji di Gunung Bawakaraeng untuk memperoleh predikat haji (Bawakaraeng).
IV. Tujuh Belas Petunjuk
Terdapat 17 (tujuh belas petunjuk) yang sebaiknya diperhatikan jika hendak melakukan perjalanan ke Gunung Bawakaraeng, yakni :
1. Tanah itu tempat bersujud dan berdiri.
2. Air Bawakaraeng itu sumber kehidupan dan kebersihan.
3. Udara itu jalan napas.
4. Api hanyalah sementara, (ber) hati – hatilah padanya.
5. Pintu Bawakaraeng ada 7 (tujuh), disetiap pintu wajib menyampaikan salam.
6. …….
7. …….
8. Bersihkan diri sebelum masuk pintu.
9. Shalatlah di pintu : 1, 3, 5, 6, dan 7
10. Berwudhulah sebelum masuk pintu 6.
11. Sujudlah sesampai di tujuan.
12. Berdzikirlah disetiap napas.
13. Berpuasalah setelah pulang.
14. Jagalah diri (lidah dan kemaluan)
15. Sadarkanlah pikiranmu selalu.
16. Wanita yang berhalangan hanya dibolehkan samapi di pintu 5.
17. Jika ditimpa kemalangan segeralah berdoa kepada Allah SWT.
Tujuh belas petunjuk diatas masih bersifat dan berbahasa pemahaman dan kesadaran sehingga perlu dijabarkan secara teknis agar mudah dimengerti dalam pelaksanaannya.
Misalnya : – Buang air kecil (kencing) disebelah kiri dari jalan setapak menuju puncak. Saat kencing (air kencing) dilewatkan melalui media daun, kayu atau batu sebelum tiba ditanah (penghargaan kepada tanah).
- Buang air besar disebelah kiri. Galilah lubang, tempatkan selembar daun di dasar lubang, lalu buang besar. Setelah itu timbunlah kembali.
Khusus bagi kaum perempuan sebelum ditimbun terlebih dahulu tutuplah dengan selembar daun.
Sebelah kiri menggambarkan sesuatu / tempat dari sesuatu. Tanah nenek moyang berarti nenek / moyang manusia adalah tanah; maka hargailah tanah jika ingin menghargai diri sebagai manusia.
V. Nilai – nilai pembelajaran
Dari uraian singkat diatas,, beberapa hal yang dapat ditarik menjadi nilai atau pesan pembelajaran (nilai edukatif) , meliputi :
1. Percaya dan yakin terhadap eksistensi Allah SWT
2. Percaya kepada hal gaib
3. Diingatkan untuk shalat.
4. Menjaga lingkungan, menghidupkan lingkungan (melepas hewan hidup).
5. Hidup dengan rasa syukur (mau berbagi)
6. Selau membersihkan diri dan menjaga diri.
7. mengucapkan hal yang baik (menjaga lidah).
8. Membiasakan diri untuk hidup dengan tata karma.
9. Selalu memohon rahmat Allah SWT.
VI. Penutup
Nilai pendidikan merupakan nilai-nilai yang bersifat mendidik manusia sehingga minimal didalamnya dapat menyampaikan nilai dasar manusia.
Mythos (mitos) apapun pengertiannya janganlah dikesampingkan hanya karena keterbatasan untuk mendalamiinya (dengan sains sekalipun), karena pada saat ini banyak hal yang sebelumnya disebut mythos ternyata telah dibuktikan oleh sains sebagai sebuah kebenaran.
Fisik (Physical Quotient), Pikiran (Inteligentia Quotient), Hati (Emotional Quotient) dan Bathin (Spiritual Quotient); semuanya hanyalah alat bantu (teknologi alami) yang dapat membantu manusia untuk mengenal dirinya, fenomena alam dan Allah SWT.
Untuk itu bangunlah pemikiran yang beriman (logika beriman).
(I’ Andi Ri Buttatoayya)
(Catatan ini sengaja saya turunkan untuk meluruskan pemahaman yang keliru bahkan telah menjurus ke Fitnah dan Gibah terhadap Bawakaraeng – Buttatoayya sebagai sebuah Gunung;
Semoga catatan ini dapat membangun sikap kehati-hatian dalam berpikir dan berbicara Bawakaraeng – Buttatoayya sebagai sebuah Gunung) !
(Semoga bermanfaat))

3 komentar: